Buku Terkecil di Dunia

keajaiban nanoteknologi dalam mencetak teks seukuran sel

Buku Terkecil di Dunia
I

Pernahkah kita memikirkan berapa banyak buku yang bisa kita bawa dalam satu tas? Mungkin tiga atau empat buku tebal. Kalau pakai perangkat digital, kita bisa membawa ribuan. Tapi mari kita dorong imajinasi kita sedikit lebih jauh. Bayangkan jika kita bisa membawa sebuah perpustakaan utuh, bukan di dalam tas, melainkan di ujung sehelai rambut kita. Kedengarannya seperti keajaiban dari film fiksi ilmiah, bukan? Sayangnya, ini bukan fiksi. Ini adalah realitas yang sedang kita ciptakan hari ini. Mari kita bicara tentang obsesi peradaban yang paling aneh sekaligus paling menakjubkan: penciptaan buku terkecil di dunia.

II

Secara psikologis, manusia memang selalu terobsesi dengan hal-hal kecil. Kita merasa memiliki kendali penuh ketika sesuatu bisa digenggam oleh tangan kita. Sejarah membuktikan hal ini. Dulu, jam dinding yang besar dan berat diubah menjadi jam saku yang elegan. Lalu, komputer yang dulunya sebesar ruangan kelas disusutkan menjadi ponsel pintar yang sekarang sedang teman-teman pegang. Kita selalu punya dorongan egois sekaligus brilian untuk menaklukkan batasan ruang fisik. Namun, ketika bicara tentang buku, tantangannya menjadi sangat berbeda. Buku butuh teks. Teks butuh medium. Dan medium butuh ruang agar bisa dibaca. Lalu, bagaimana jika ruang itu dipangkas habis-habisan sampai ukurannya sebanding dengan satu sel darah merah kita sendiri?

III

Di sinilah ilmu pengetahuan masuk dan mendobrak akal sehat kita. Mari kita bayangkan ukuran sebuah sel manusia. Sangat kecil, sangat rapuh, dan tidak kasat mata. Sekarang, bayangkan sebuah buku utuh yang ukurannya persis sebesar sel tersebut. Pertanyaannya, kertas jenis apa yang tidak hancur di ukuran sekecil itu? Tinta apa yang tidak akan luber saat digoreskan? Lebih penting lagi, jika bukunya sebesar bakteri, siapa yang akan membacanya dan bagaimana caranya? Ini adalah teka-teki teknis yang sempat membuat para fisikawan memutar otak. Mereka sadar bahwa mereka harus meninggalkan mesin cetak tradisional. Mereka bahkan harus melupakan definisi kita tentang "kertas" dan "tinta". Mereka harus masuk ke dunia sub-atomik, sebuah ranah yang kita kenal dengan sebutan nanotechnology atau nanoteknologi.

IV

Jawaban dari semua teka-teki itu akhirnya terwujud di sebuah laboratorium di Kanada. Para ilmuwan di Simon Fraser University berhasil menciptakan buku berjudul Teeny Ted from Turnip Town. Ukurannya? Hanya 0,07 x 0,10 milimeter. Ini jauh lebih kecil dari lubang jarum paling kecil sekalipun. Di sinilah letak keajaiban hard science yang sesungguhnya. Buku ini tidak dicetak menggunakan tinta cair. Halaman-halamannya terbuat dari kepingan silikon murni, bahan yang sama persis dengan yang dipakai untuk membuat otak komputer kita. Lalu tintanya? Mereka menggunakan pancaran ion galium (gallium ion beam) yang difokuskan sedemikian rupa untuk "memahat" huruf demi huruf di atas silikon tersebut. Proses ini mirip seperti mengukir batu candi kuno, tapi dilakukan di tingkat atomik. Untuk membacanya, kita tentu tidak bisa memakai kacamata biasa atau kaca pembesar. Kita diwajibkan menggunakan mikroskop elektron berkekuatan raksasa.

V

Mungkin teman-teman mulai bertanya, untuk apa kita repot-repot membuat buku yang tidak bisa dibaca sambil tiduran atau minum kopi? Bukankah ini sekadar ajang pamer kecanggihan teknologi dari para akademisi? Secara sekilas, mungkin iya. Tapi jika kita berpikir lebih kritis, buku terkecil ini adalah sebuah monumen pembuktian umat manusia. Ini adalah cara sains memberi tahu kita bahwa kapasitas kita untuk menyimpan pengetahuan tidak lagi dibatasi oleh ruang fisik. Jika kita bisa memahat cerita anak-anak di atas area seukuran sel, bayangkan data medis, sejarah peradaban, atau cetak biru teknologi yang bisa kita wariskan ke masa depan dalam medium yang tidak bisa lapuk. Pada akhirnya, inovasi nanoteknologi ini mengajarkan kita satu hal yang sangat indah. Terkadang, lompatan terbesar dalam sejarah umat manusia justru dimulai dari hal-hal yang ukurannya paling tidak terlihat oleh mata kita.